Permintaan Tinggi, Produksi Jahe Belum Alami Peningkatan

Tanaman jahe Indonesia memang cukup tersohor di dunia, seperti halnya cengkeh dan lada sebagai rempah-rempah unggulan sejak ratusan tahun lalu.

 

Jahe umumnya diburu sebagai biofarmaka atau tanaman obat oleh pebisnis jamu tradisional maupun industri farmasi. Bukan hanya pasar lokal, namun pasar ekspor jahe juga kian menggeliat seiring dengan semakin bertumbuhnya industri herbal di skala global. Terdapat tiga jenis jahe yang dihasilkan oleh Indonesia yaitu jahe gajah yang menguasai pasar ekspor dan jahe merah serta jahe emprit yang diburu pasar lokal.

 

Sayangnya permintaan pasar yang tinggi belum diimbangi kemampuan produksi petani di dalam menghasilkan jahe dalam jumlah banyak. Pada tahun 2016 ini saja diperkirakan stagnan pada angka 150.000 – 170.000 ton dengan tren produksi jahe yang meningkat sejak 2013 lalu. Terutama untuk Belanda sebagai konsumen sekaligus pengepul jahe gajah dari Indonesia.

 

Sementara saat ini harga ekspor rata-rata jahe mencapai US$ 400 per ton dan diperkirakan mampu menyentuh US$ 1.000 per ton jika China dan Thailand sebagai eksportir utama mengalami gagal panen.

One thought on “Permintaan Tinggi, Produksi Jahe Belum Alami Peningkatan

  • 17 Juli 2016 at 07:04
    Permalink

    Hur finner du all tid och all din inosaritipn? Du är så otroligt kreativ, jag önskar verkligen att jag hade det. Superfin kombination och om jag får tycka till så tycker hjärtat. Det symboliserar den Sandra jag känner :)Kram H

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *