Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 72/M- IND/PER/ 9/2015

Menteri Perindustrian Republik Indonesia

PERATURAN
MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 72/M- IND/PER/ 9/2015
TE NTANG
PETA PANDUAN PENGEMBANGAN PUSAT PENGEMBANGAN
INDUSTRI KREATIF (BALI CREATIVE INDUSTRY CENTER) TAHUN 20 15—20 19

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAI-IA ESA
MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:

a.bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian
Nomor 146 /M-IND /Kep / 3/ 2014 tentang Pemberdayaan
Balai Pendidikan dan Pelatihan Industri Denpasar
Sebagai Pusat Pengembangan Industri AKreatif (Bali ‘
Creative Industry Center), perlu menyusun peta
panduan pengembangan Pusat Pengembangan Industri
Kreatif (Bali Creative Industry Center);
b.bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalarn huruf a, perlu menetapkan Peraturan
Menteri Perindustrian tentang Peta Panduan
Pengembangan Pusat Pengembangan Industri Kreatif
(Bali Creative Industry Center) Tahun 2015—2019;

Mengingat:

1.Undang—Undang .Nomor 3 Tahun 2014 tentang
Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5492);
2.Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang
Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun
2015—2035 (Lembaran Negara Republik Indonesia}.
Tahun 2015 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 567 1);
3.Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang
Organisasi Kementerian Negara;
4.Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2015 tentang
Kementerian Perindustrian;
5.Keputusan Presiden Nomor 121 / P Tahun 2014 tentang
Pembentukan Kementerian dan Pengangkatan Menteri
Kabinet Kerja Periode Tahun 2014—20 19;
6.Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 127/ M—
IND / PER / 10/2009 tentang Peta Panduan (Road Map)
Pengembangan Klaster Industri Elektronika;
Nomor : 72/M— IND/PER/ 9/2015
7. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 129 / M-
IND/ PER/ 10/ 2009 tentang Peta Panduan (Road Map)
Pengembangan Klaster Industri Komputer dan
Peralatannya;
8. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 130 / M—IND /
PER/ 10/ 2009 tentang Peta Panduan (Road Map)
Pengembangan Klaster Industri Perangkat Lunak dan
Konten Multimedia;
9. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 131/M-IND/
PER/ 10/2009 tentang Peta Panduan (Road Map)
Pengembangan Klaster Industri Fashion;
10. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 132 / M—IND/
PER/ 10/2009 tentang Peta Panduan (Road Map)
Pengembangan Klaster Industri Kerajinan dan Barang
Sent
11. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 133/M—IND/
PER/ 10/ 2009 tentang Peta Panduan (Road Map)
Pengembangan Klaster Industri Batu Mulia dan
Perhiasan;
12. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 135 / M—IND/
PER/ 10/ 2009 tentang Peta Panduan (Road Map)
Pengembangan Klaster Industri Gerabah dan Keramik
Hias;
13. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 40/ M-IND/
PER/ 5/ 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai
Pendidikan dan Pelatihan Industri;
14. Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 146/ M-IND/
Kep/ 3/ 2014 tentang Pemberdayaan Balai Pendidikan
dan Pelatihan Industri Denpasar Sebagai Pusat
Pengembangan Industri Kreatif (Bali Creative Industry
Center);

MEMUTUSKAN:
PERATURAN
MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 72/M- IND/PER/ 9/2015
TE NTANG
PETA PANDUAN PENGEMBANGAN PUSAT PENGEMBANGAN
INDUSTRI KREATIF (BALI CREATIVE INDUSTRY CENTER) TAHUN 20 15—20 19

Pasal 1
(1) Menetapkan peta panduan pengembangan Pusat
Pengembangan Industri Kreatif (Bali Creative Industry
Center) Tahun 2015—2019 sebagaimana tercantum
dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.
(2) Peta panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan pedoman operasional bagi Aparatur
Pemerintah dalam rangka menunjang pelaksanaan
program pengembangan industri kreatif sesuai dengan
bidang tugasnya secara komplementer dan sinergik.

-3- Peraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor 72/ M-IND/ PER/9/20 1 5

Pasal 2
Pelaksanaan program/rencana aksi dilakukan oleh
pengelola Pusat Pengembangan Industri Kreatif (Bali
Creative Industry Center) dan berkoordinasi dengan Balai
Pendidikan dan Pelatihan Industri Denpasar.
Pasa13
Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kota Denpasar
dapat memanfaatkan fasilitas Pusat Pengembangan
Industri Kreatif (Bali Creative Industry Center) dalam
pengembangan industri kreatif berkoordinasi dengan Balai
Pendidikan dan Pelatihan Industri Denpasar.

Pasal 4
Pengelola Pusat Pengembangan Industri Kreatif (Bali
Creative Industry Center) melaporkan hasil pelaksanaan
program / rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 secara berkala setiap akhir tahun atau sewaktu—waktu
apabila diperlukan kepada:
a. Sekretaris Jenderal;
b. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat
Trasnportasi, dan Elektronika; dan
C. Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah.
Pasal 5
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 September 2015
S a1. . d 1. MENTERI PERINDUSTRIAN

man

sesual engan as 1nya REPUBLIK INDONESIA,
Sekretarlat J enderal
Kementerian Perindustrian
ttd
Kepala BiroHukum dan Organisasi

‘ ‘

SALEH HUSIN

PRAYONO
SALINAN Peraturan Menteri ini
disampaikan kepada:
1 Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian;
2 Direktur Jenderal ILMATE;
3 Direktur J enderal IKM;
4. Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian;
5. Gubernur Provinsi Bali;
6 Walikota Denpasar;
7 Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri;
8 Kepala Biro Hukum dan Organisasi;
9. Kepala Balai Pendidikan dan Pelatihan Industri Denpasar;
10. Pertinggal.

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 72/M-IND/PER/9/2015
TANGGAL : 1. September 2015

PETA PANDUAN PENGEMBANGAN PUSAT PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF
(BALI CREATIVE INDUSTRY CENTER) TAHUN 2015-20 19

BAB I PEN DAHULUAN
BAB II RENCANA STRATEGIS
BAB III RENCANA AKSI

MENTERI PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd .
SALEH HUSIN

Salinan sesuai dengan aslinya
Sekretariat Jenderal
Kementerian Perindu strian
Kepala Biro Hukum dan Organisasi

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini dunia telah memasuki era ekonomi yang mengintensifkan
informasi dan kreativitas sumber daya manusia sebagai faktor produksi
utarna. Dengan komposisi jumlah penduduk usia muda sekitar 43 persen,
Indonesia memiliki basis sumber daya manusia cukup banyak bagi
pengembangan ekonomi kreatif.
Istilah “Ekonomi Kreatif” mulai dikenal secara global sejak munculnya
buku “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” {2001)
oleh John Howkins. Hawkins menyadari lahirnya gelombang ekonomi baru
berbasis kreativitas setelah melihat pada tahun 1997 Amerika Serikat
menghasilkan produk—produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) senilai 414
Miliar Dollar. Hawkins dengan ringkas mendefinisikan Ekonomi Kreatif,
yaitu: “The creation of value as a result of idea”. Kegiatan ekonomi kreatif
mengharuskan pelakunya untuk memanfaatkan waktu dengan
menghasilkan ide demi kemajuan. Di Indonesia, salah satu strategi dalam
pembangunan ekonomi dan industri yakni dengan pengembangan industri
kreatif.
Sebagaimana tertulis dalam Cetak Biru Pengembangan Ekonomi
Kreatif Nasional 2009-2015 (2008), industri kreatif didefinisikan sebagai
industri yang berasal Clari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta
bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan
dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta
individu. Seiring dengan pergeseran orientasi ekonomi menuju ekonomi
kreatif, Industri kreatif mulai berkembang menjadi salah satu faktor
penggerak di dalam perekonornian nasional.
Pengembangan industri kreatif sangat dibutuhkan dalam persaingan
global karena memberikan kontribusi ekonomi yang signi?kan, menciptakan
iklim bisnis yang positif, membangun citra dan identitas bangsa, berbasis
kepada sumber daya yang terbarukan, menciptakan inovasi dan kreativitas

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
_2_ Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015
yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa, serta memberikan
dampak sosial yang positif.
Data BPS mengenai perkembangan industri kreatif tahun 2013
menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa sektor ini memiliki kontribusi
positif yang tidak kalah dibandingkan sektor lain. Industri kreatif tumbuh
5,76% atau di atas rata—rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,74%,
dengan nilai tambah sebesar Rp 641,8 triliun atau menyumbang 7% dari
PDB nasional. Penyerapan tenaga kerja mencapai angka 11,8 juta orang
(10,7% dari angkatan kerja nasional), jumlah unit usaha mencapai angka
5,4 juta unit (9,7% dari total unit usaha), sedangkan aktivitas ekspor
menyentuh Rp 118 triliun, yakni 5,7% dari total ekspor nasional.
Industri kreatif di Indonesia meliputi 15 subsektor, yakni periklanan;
arsitektur; pasar barang seni; kerajinan; desain; fesyen; video, film dan
fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan
percetakan; layanan komputer dan peranti lunak; televisi dan radio; riset
dan pengembangan; serta kuliner. Dari 15 subsektor tersebut, terdapat 3
(tiga) subsektor yang memberikan kontribusi atau Nilai Tambah Bruto yang
dominan terhadap PDB, yaitu subsektor kuliner (Rp 209 triliun / 32,5%),
fesyen (Rp 182 triliun / 28,3%), dan kerajinan (Rp 93 triliun / 14,4%).
Subsektor industri fesyen memiliki kinta baik yang ditandai dengan
penyerapan tenaga kta sebanyak 3,8 juta tenaga kerja pada 2013 atau
sebesar 3,4% dari total penyerapan tenaga kerja nasional, dan ekspor
industri fesyen mencapai Rp 76,7 triliun atau meningkat 8% dibandingkan
tahun 2012.
Sejalan dengan fesyen, pada subsektor industri kerajinan pun terdapat
peningkatan kinta yakni penyerapan tenaga kerja sebanyak 3,1 juta orang
pada 2013 atau meningkat 1% dari tahun sebelumnya, dan ekspor industri
kerajinan mencapai Rp 21,7 triliun atau meningkat 7,6% dibandingkan
tahun sebelumnya.
Untuk industri konten, khususnya subsektor permainan interaktif
serta layanan komputer dan piranti lunak, meskipun kontribusinya
terhadap PDB masih kecil, tetapi industri ini memiliki potensi yang besar
untuk berkembang, yang ditandai dengan tingginya pertumbuhan nilai
tambah yang dihasilkan dengan rata-rata di atas 10% per tahun selama

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
_3_ Nomor : 72/M— IND/PER/ 9/ 2015

periode 2010—2013. Bahkan kiprah para pelaku industri konten Indonesia
sudah semakin mendapat pengakuan di dunia internasional dengan
masuknya beberapa aplikasi nasional dalam Asia’s Top ??y Applications
Tahun 2011 (Asia’s Tap 50 Apps 2011).
Pada saat sekarang, pasar industri konten sangat terbuka lebar karena
hampir seluruh telepon seluler menggunakan produk industri konten, baik
berupa piranti lunak maupun aplikasi permainan interaktif. Sementara itu,
menurut data dari International Data Corporation (IDC), jumlah ponsel yang
beredar pada tahun 2013 mencapai lebih dari 1 miliar atau naik 38,4 persen
dibandingkan tahun 2012.
Dalam rangka mendorong peningkatan industri kreatif di Indonesia
serta melihat potensi kemajuannya dibutuhkan peran yang besar dari
pemerintah. Kementerian Perindustrian menindaklanjuti peluang tersebut
dengan merencanakan pendirian organisasi atau badan atau semacam Unit
Pelayanan Teknis (UPT) industri kreatif di Provinsi Bali. Sebagai salah satu
instrumen di bawah Kementrian Perindustrian, Direktorat Jenderal Industri
Kecil dan Menengah (Ditjen IKM) dan Direktorat Jenderal Industri Logam,
Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ditjen ILMATE) menyediakan
fasilitasi pusat pengembangan industri kreatif nasional, khusus di sektor
fesyen, kerajinan, software dan konten, dengan nomenklatur Bali Creative
Industry Center (BCIC). Penunjukkan Bali sebagai pusat industri kreatif
cukup beralasan karena Bali dikenal sebagai pusat tujuan wisata dan
pencetak maestro kelas dunia.
BCIC yang terletak di J1. W.R Supratman No. 302, Tohpati, Bali, ini
diharapkan dapat menjadi solusi atas masalah yang kerap dihadapi pelaku
industri, khususnya industri kecil dan menengah, seperti keterbatasan
bahan baku, minimnya riset dan teknologi, kesulitan promosi dan
pernasaran, hingga risiko pencurian desain. Sebagai Center of Excellence
industri kreatif nasional, BCIC merupakan wadah /1embaga yang dilengkapi
dengan prasarana dan sarana untuk membangun industri kreatif agar
menghasilkan produk yang berdaya saing di tingkat nasional dan
internasional. Dengan fasilitasi tersebut diharapkan BCIC mampu
mengakomodasi kreativitas SDM negeri dalam meningkatkan pertumbuhan
ekonomi kreatif.

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
_4_ Nomor : 72/M- IND/PER/ 9/ 2015

B. Permasalahan
Dalam menjalankan program kerja yang baik dan berkesinambungan
dengan kualitas yang memadaj, BCIC menghadapi berbagai masalah, yaitu:
8)

b)

d)

Landasan Hukum
Landasan hukum merupakan pondasi utama bagi BCIC dalam
melaksanakan program kerja dengan baik dan legal.
Prasarana dan Sarana
Gedung~gedung BCIC sudah dibangun dan siap digunakan. Namun,
pengelolaannya masih berbagi dengan 3 (tiga) unit pengelola program,
yaitu Sekretariat Jenderal (oleh Balai Diklat Industri Denpasar),
Direktorat Jenderal IKM, dan Direktorat Jenderal ILMATE sehingga
pengelolaannya bersifat parsial.
Kelembagaan dan Organisasi
Seperti dijelaskan pada prasarana dan sarana, pengelola program BCIC
melibatkan 3 (tiga) unit kta di Kementerian Perindustrian sehingga
masing—masing unit membentuk tim pengelola sementara yang tidak
berhubungan satu sama lain. Masalah yang ttadi adalah ketidakj elasan
kelembagaan BCIC, merupakan lembaga mandiri atau mempunyai
manajemen yang mandiri atau tidak. Kalau tidak mandiri, belum ada
dasar hukum yang menyatakan pemimpin program dari ketiga entitas
pengelola dimaksud.
Sumber Daya Manusia
Saat ini tanggung jawab operasional BCIC secara keseluruhan ada di
bawah Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar dengan jumlah pegawai 15
orang yang khusus menangani pendidikan dan pelatihan, sedangkan
BCIC membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia dengan
kompetensi beragam yang mencakup seluruh program BCIC.
Manajemen dan Tata Kelola ~
Kondisi dan permasalahan yang ada pada kelembagaan dan sumber daya
manusia akhirnya berimbas kepada permasalahan manajemen dan tata
kelola.

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI

-5-

C. Ruang Lingkup

Nomor : 72/M— IND/PER/9/2015

Adapun industri kreatif yang menj adi ruang lingkup pengembangan BCIC
tertuang dalam tabel berikut ini:
KODE URAIAN KOMOD?’l/CABANG INDUSTRI
13121 iNDUSTR? PERTENUNAN {BUKAN PERTENUNAN KARUNG GON! DAN KARUNG LAiNNYA) KERAJJNAN
13122 JNDUSTRI KAIN TENUN IKAT KERAHNAN/FESYEN
13123 INDUSTRE BULU TIRUAN TENUNAN KERAHNAN/FESYEN
13133 ENDUSTRE PENCETAKAN KAJN KERAJENAN/FESYEN
13134 INDUSTR! BATJK FESYEN
13911 iNDUSTRi KAtN RAJ UTAN KERAJiNAN/FESYEN
13912 INDUSTRE KAIN SULAMANy’BORDiR KERAJiNAN/FESYEN
13913 ENDUSTR! BULU TERUAN RAJ UTAN FESYEN
13922 ENDUSTRJ BARANG JADI TEKSTELSULAMAN FESYEN
13924 ENDUSTRE BARANGJAD! RAJUTAN DAN SULAMAN FESYEN
13930 iNDUS‘TRl KARPET DAN PERMADANI KERAJENAN
14111 ENDUSTR! PAKAiAN JADE (KONVEKSI) DAR? TEKSTEL FESYEN
14112 INDUSTRJ PAKAIAN JAD! (KONVEKS?) DARI KULJT FESYEN
14120 PENJAHITAN DAN PEMBUATAN PAKAEAN SESUA} PESANAN FESYEN
14131 ENDUSTRI PERLENGKAPAN PAKAEAN DAR! TEKSTJL FESYEN
14132 ENDUSTR: PERLENGKAPAN PAKAEAN DARE KUUT FESYEN
14200 fNDUSTR§ PAKAiAN 3AD5 DAN BARANG DAR} KULIT BERBULU FESYEN
14301 ENDUSTRE PAKAIAN JADE RAJUTAN FESYEN
14302 lNDLlSTR¥ F’AKAEAN JADE SULAMAN/BORWR FESYEN
14303 ENDUSTR¥ RAJUTAN KAOS KAKi DAN SEJENISNYA FESYEN
15121 lNDUSTRi BARANG DAR! KUUT DAN KUUT BUATAN UNTUK KEPERLUAN FREE-AD? FESYEN
15122 {NDUSTRE BARANG DAR! KUUT DAN KUUT BUATAN UNTUK KEPERLUAN TEKNiK/INDUSTRI FESYEN
15123 iNDUSTRl BARANG DAR! KUUT DAN KULH’ BUATAN UNTUK KEPERLUAN HEWAN FESYEN
15129 i’NDUSTRi BARANG DAR! KULiT DAN KULJT BUATAN UNTUK KEPERLUAN LAINNYA KERAJINAN
15201 iNDUSTRE ALAS KAKI UNTUK KEPERLUAN SEHARi-HARI FESYEN
15202 INDUSTRI SEPATU OLAHRAGA FESYEN
15203 INDUSTR! SEPATU TEKNIK LAPANGAN/KEPERLUAN INDUSTRI FESYEN
15209 INDUSTRJ ALAS KAKJ LAINNYA FESYEN
16291 ZNDUSTR$ BARANG ANYAMAN DARE ROTAN DAN BAMBU KERAHNAN
16292 iNDUSTRi BARANG ANYAMAN DAR! TANAMAN BUKAN ROTAN DAN BAMBU KERAJiNAN
16293 iNDUSTR! KERAJiNAN UKERAN DAR? KAYU BUKAN MEBELLER KERAJiNAN
Z3932 iNDUSTRE PERLENGKAPAN RUMAH TA NGGA DARi TANAH LiAT/KERAMiK KERAJENAN
32111 iNDUSTRi PERMATA KERAJzNAN
32112 iNDUSTRi BARANG PERHiASAN DAR! LOGAM MUUA UNTUK KEPERLUAN PREBADI KERAHNAN
32115 INDUSTRE PERHSASAN MUTIARA KERAJJNAN
32119 iNDUSTRi BARANG LAiNNYA DARf LOGAM MUUA KERAJENAN
32903 INDUSTR} KERAHNANYTDL KERABNAN
ANWIASI, GAMES, PERANGKAT
59111 PRODUKSJ FILM, VIDEO DAN PROGRAM TELEVlSi OLEH PEMERiNTAH LUNAK
ANEMASE, GAMES, PERANGKAT
S9112 PRODUKSJ ESLM, VIDEO DAN PROGRAM TELEVIS! OLEH SWASTA LUN AK
ANiMASJ, GAMES, PERANGKAT
59121 PASCA PRODUKSE FlLM, VIDEO DAN PROGRAM TELEVISI OLEH PEMERINTAH LUNAK
ANEMASE, GAMES, PERANGKAT
59122 PASCA PRODUKSJ FiLM, ViDEO DAN PROGRAM TELEVISI OLEH SWASTA LUNAK
ANEMASi, GAMES, PERANGKAT
62010 KEGiATAN PEMROGRAMAN KOMPUTER LUNAK
741001ASA PERANCANGAN KHUSUS KERAJiNAN

Tabel 1.1 KBLI 2009 (Fesyen, Kerajinan, So?ware, dan Konten)

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
-5- Nomor= 72/M— IND/PER/9/2015

BAB II
RENCANA STRATEGIS

. Visi dan Misi
. Visi
“Menjadi Pusat Pengembangan lndustri Kreatif dan lnovasi Unggulan untuk
meningkatkan daya saing Nasional bagi kesejahteraan masyarakat”
. Misi
a. Membangun ekosistem industri kreatif;
b. Mengembangkan riset teknologi, desain, seni, budaya dan inovasi;
c. Membangun kapasitas SDM dan komunitas kreatif yang unggul dan
berdaya saing; dan
d. Memfasilitasi promosi dan pemasaran produk industri kreatif.
. Sasaran dan Tujuan

a.

. Sasaran
Terbangunnya pusat pengembangan kapasitas baik dari sisi
pengembangan produk maupun dari sisi pengembangan SDM pelaku
industri kreatif berbasis produk fisikal, jasa dan digital, maupun dari
sektor industri lainnya;
Terciptanya produk—produk inovatif unggulan hasil kolaborasi pelaku
industri maupun hasil inkubasi yang memililki nilai ekonomi, dilindungi
oleh hukum melalui program Hak Kekayaan lntelektual; dan
Terbangunnya sentra-sentra bisnis kreatif yang dapat dimafaatkan
sebagai jejaring baik antar sesama pelaku kreatif di level nasional
maupun internasional, serta penguatan jejaring dan kelembagaan pada
asosiasi profesi, asosiasi industri dan komunitas kreatif.
. Tujuan
a.
b.
C.

Menghasilkan sinergi dan kolaborasi kreatif yang berkelanjutan;
Menciptakan terobosan baru di bidang industri kreatif;
Menciptakan IKM kreatif baru di bidang kerajinan, gerabah dan keramik
hias, batu mulia dan perhiasan, fesyen, animasi, konten digital, dan
desain;

Lampiran Peraturan Menteri Pe?ndustrian RI
-7- Nomor : 72/M-IND/PER/9/2015

d. Menghasilkan SDM unggul di bidang industri kreatif melalui program
pelatihan;
e. Menghasilkan produk IKM kreatif iconic Indonesia;
Menghasilkan pemahaman yang baik atas industri kreatif pada pelaku
usaha dan masyarakat; dan
g. Memperluas pasar produk kreatif Indonesia.
C. Kelembagaan
BCIC pada awal perjalanannya atau dua tahun pertama dikelola oleh tiga
unit kerja, yaitu Direktorat Jenderal ILMATE (dahulu IUBTT), Direktorat
Jenderal IKM, dan BDI Denpasar, dimana manajemen sehari—hari berada di
bawah tanggung jawab BDI Denpasar (pengelolaan PNBP) dan membentuk
kelembagaan koperasi. Selanjutnya, ditargetkan pada tahun ketiga, BDI
Denpasar akan berubah kelembagaannya menjadi Badan Layanan Umum
(BLU), sehingga BDI Denpasar dapat bertransforrnasi menjadi BCIC dan
selanjutnya membentuk manajemen pengelola yang baru.
PERSIAPAN PENGAJUAN PtNILAIAN PENETAPAN
l. Sebagai BLU Status Penuh
Persiapan Prasarana «Sarana atau BLU Bertahap
Submit Dokumen : 2 Pemiauan:
V Substantlf, – Adaptasi pada Kntena
V“ Admimstratif, pedoman penniaian.
V Teknls -Identufikasi dan klari?kamBLU;
– Melakukan koordinasi dongan
unitfinstansi terkait.
– usulan pcnerapan PKBLU ire
mantell/pimpinan lambaga
° Draft rvkomendas
PROJECT 2015 – 2016 TRANSISI 2016 BLU 2017 ~

OPERAEONAL 2015 OPERASIONAL 2015 OPERASIONAL 2016 HPEHAW inf-r. 3-117

* PcnyuSunan Visi dan Misi
– Penyusunan Tupoksi :tugas—
tugas strategik ke depan
– Persiapan Prasarana -Sarana
° Penyusunan Bahan
V Pcrsyaratan Substantif.
V” PersyaratanAdministratif,
v’ PcrsyaratanTel-cnis

BCIIC sebagai
BLU : BADAN
MANDIRI dan
BERDAYA SAING

I. Penyusunan Roadmap Rencana lmplementasi : .Mdmplmg ?rmmkw 8,“e p [3,35, I , uh . e- …n2
It. Penvusunan Action Plan a. Pelatuhan, Kurikulum, ‘Exhibimn Internationdi a} can, now: H r”, .m +1.?
3- Kelembagaan: Silabus, Modur Aja? ‘Vrrtuai Mamet Piece -.M l-e-rr ‘J VI ‘ a.
b. Rencana Organisasi 8: . Pameran ’E’ll’ILubdtOfr —
rrlnhi?-ZI-trw

m’-.J;’

Rekrutmen . Seminar °£“e5agn Excel ante -‘ and?”

C. Rencana Program 8‘ ‘RAB) ‘ Award, Kompctusi ‘ Pcnngkawn (apas’tar 0t.” am!!! -1.. . –
. Rlset Pemetaan
. Portal 8’: Virtuai Market Place

– Markehng konmmidst 5″ ‘ ” ”I”. :. “‘– ‘ J‘?Z’r W“ ‘1‘?“
~ Desiain 8: Pumaupa ’ Ht” ‘31 — m ‘ 51″5 ’07
~|GDS 2016
Dough. Can‘t

Gambar 2.1 Bagan Persiapan Kelembagaan Menuju BLU
Tiga unit kerja yang terlibat dapat membentuk tim/ panitia transformasi
kelembagaan untuk mempersiapkan, menyusun, dan mengawal proses
pembentukan BLU. Tim tersebut dapat menunjuk konsultan pendamping
profesional selama masa transisi kelembagaan agar persiapan yang

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
_8_ Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015
berhubungan dengan prasyarat BLU bisa dilakukan dengan baik. Masa
transisi dapat berlangsung lebih dari dua tahun apabila diperlukan.
Adapun peran dan fungsi pendamping dalam masa transisi dari BDI
menjadi BCIC adalah sebagai berikut:
1) Membantu mempersiapkan kelembagaan BCIC:
a. Transformasi BDI menjadi BCIC BLU;
b. Mempersiapkan rencana strategis dan rencana operasional jangka
pendek dan menengah.
2) Membantu mempersiapkan program kegiatan Quick Wins BCIC 2015—
2016:
a. Peningkatan kapasitas SDM;
P” Peningkatan komunikasi, jejaring dan promosi;
Pengembangan animasi dan konten multimedia;
0.9 Persiapan inkubator bisnis;
5° Penelitian pemetaan industri kreatif nasional;
Kegiatan kompetisi dan penghargaan.
D. Program
Secara umum, BCIC mempunyai 5 (lima) program utama, yaitu:
1. Pusat Inovasi dan Kekayaan Intelektual: yang di dalamnya melakukan
kegiatan penelitian dan pengembangan produk, pengembangan desain,
pengujian/ penilaian, purwarupa, penciptaan nilai tambah, kreasi
kolaborasi, program hak kekayaan intelektual.
2. Pusat Pendidikan dan Pelatihan: yang di dalamnya melakukan kegiatan
sertifikasi, tempat uji kompetensi, kursus, pelatihan, seminar,
bimbingan, klinik, magang, pendampingan dan studi banding.
3. Pusat Promosi dan Pemasaran: yang di dalamnya melakukan kegiatan
pembangunan jejaring kreatif nasional dan internasional, direktori
pelaku kreatif keanggotaan profesi internasional, pengembangan usaha
dan pasar, promosi program: pemasaran, merek, pameran, kompetisi,
penghargaan, virtual market place, termasuk program pariwisata
industri kreatif.
4. Pusat Pengembangan Industri Software dan Konten: yang di dalamnya
melakukan kegiatan pengembangan konten digital, cetak maupun

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
_9_ Nomor : 72/M— IND/PER/9/2015

tayangan, multimedia dan animasi, bisnis dan teknologi, sekaligus
sebagai pusat produksi.
. Pusat Inkubasi Bisnis: yang di dalamnya melakukan kegiatan wirau saha
kreatif, inkubasi bisnis, perencanaan bisnis, pembiayaan, manajemen
operasional, produksi dan SDM, pengembangan minat pasar.
Dalam melaksanakan programnya, terdapat 2 (dua) bentuk kegiatan
yaitu 1) kegiatan nirlaba (cost center) sebagai bagian dari pelayanan
pemerintah terhadap publik, dimana seluruh kegiatan akan didanai oleh
APBN, serta 2) kegiatan komersial (pro?t center) agar mempunyai
keuntungan yang bisa digunakan utuk menjalankan program dengan baik.
Adapun jenis kegiatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Pelatihan, di antaranya:

2)

3)

a)
b)

C)

d)

e)

g)

h)

Fesyen: pola, material, teknik menjahit, desain busana;
Kerajinan: desain, teknologi CNC, 3D modelling, purwarupa, ?nishing,
pengemasan;
Perhiasan: desain, material, teknologi CNC, 3D modelling, purwarupa,
?nishing, pengemasan;
Software dan konten: pembangunan karakter animasi, alur cerita
permainan;
Desain: konsep, tren, pencitraan, desain sementara, pengembangan
desain, desain merek, desain kemasan, komunikasi pemasaran;
Bisnis dan kewirausahaan: penyusunan rencana bisnis, bisnis model,
skema pembiayaan, pajak, ekspor dan impor;
SDM: diklat rutin internal, kegiatan pengembangan industri kreatif
untuk pejabat dan pengambil keputusan setingkat provinsi;
dan seterusnya.
Event
Yaitu kegiatan—kegiatan atau acara yang dirancang untuk dilaksanakan
dalam skala lokal, nasional, ataupun internasional, seperti konferensi,
pameran produk kreatif, kegiatan asosiasi (kongres), aneka ragam
workshOp, creative camp, dan sebagainya.
Penelitian dan Pengembangan
Kegiatan—kegiatan penelitian dan pengembangan bisa berbentuk
Pemetaan dan Dokumentasi Potensi Industri Kreatif Nasional, Kajian

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
_10_ Nomor: 72/M—IND/PER/9/2015
Rencana Strategis Pengembangan Industri Kreatif Nasional,
Pengembangan Desain Produk dan Purwarupa, Penerapan teknologi pada
produk kriya dengan menggunakan teknologi digital.
4) Kompetisi dan Penghargaan
Kegiatan kompetisi dan penghargaan merupakan kegiatan yang akan
mengakselerasi industri kreatif, di antaranya Indonesia Good Design
Selection (IGDS), Lomba Desain Kemasan Nasional, Kompetisi dan
Penghargaan pada Industri Fesyen (nasional/internasional).
5) Rumah Produksi
Kegiatan rumah produksi dimanfaatkan sebagai pembangunan hasil
karya animasi dan konten multimedia.
6) Ruang Pamer dan Penjualan
Fasilitasi ruang pameran dan penjualan bertujuan untuk melaksanakan
kurasi dan pameran produk kreatif secara rutin dalam skala besar.
7) Hotel, Kafe, dan Restoran
BCIC menjadi tempat bertemunya insan ekonomi kreatif nasional
maupun internasional, maka dukungan fasilitas penginapan, kafe dan
restoran menjadi hal yang penting demi menunjang pelaksanaan ekonomi
kreatif. Selanjutnya dengan adanya fasilitas tersebut, BCIC dapat
melaksanakan sendiri atau mengundang berbagai tenant untuk mengisi
ruang—ruang yang tersedia dalam pameran kuliner nusantara.
8) Komunikasi Pemasaran (Marcomm)
Pelaksanaan Komunikasi Pemasaran (Marcomm) BCIC menjadi
permulaan yang strategis sebagai ajang pengenalan program dan kegiatan
BCIC kepada masyarakat umum. Demi kelancaran proses kegiatan maka
dirancang beberapa program marcomm, antara lain: Pembuatan dan
Operasional Portal BCIC, Desain dan Print Ad, dan Program Media Publik.
E. Struktur Organisasi
Berikut ini adalah struktur organisasi BCIC dalam kondisi optimal yang
bisa dicapai dalam 5 (lima) tahun ke depan, dengan komposisi manajer
sebagai cerminan dari 5 (lima) program utama BCIC:

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian R1
_11_ Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN: SETJEN-DITJEN IKM-DITJEN
ILMATE

Komlurlo Dlroktur Utama

Dir. Oporulonal Dlr. kouunganmomonporln)

4.Mana]or
lnduotrl 5-Mlnalor
Promool a. Inkubnl
Software &
Pomauran
Kenton Blanlo

1.Mana]or
Inovul dan 2.Mana]or
HKI llat

3.Manajar

Gambar 2.3 Bagan Struktur Organisasi BCIC
F. Sumber Daya Manusia
Hal mutlak yang tidak dapat dipungkiri dalam pengembangan ekonomi
kreatif adalah keberadaan Sumber Daya Manusia. Indonesia sebagai salah
satu negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia memiliki
potensi yang cukup baik dalam Sumber Daya Manusia. Seperti yang telah
dijelaskan diawal, potensi SDM yang dimiliki Indonesia cukup besar.
Tercatat 43 persen komposisi jumlah penduduk Indonesia adalah penduduk
dengan usia produktif. Sumber Daya lnsani, sebagai faktor terpenting dalam
pondasi industri kreatif, memiliki peran sentral dibanding dengan faktor-
faktor produksi lainnya. Alasan itulah yang menjadi dasar bagi Indonesia
untuk membentuk SDM nya menjadi terampil, terlatih dan terberdayakan
guna menumbuhkembangkan pengetahuan dan kreativitas di bidang
industri ekonomi kreatif.
Model Pengembangan Industri Kreatif diibaratkan sebuah bangunan
yang memiliki landasan, pilar dan atap yang menaungi. Setiap pilar
mengandaikan SDM yang menjalankan fungsinya. Bangunan industri
kreatif berada dalam naungan ‘tnple helix’, yang termasuk di dalamnya
Cendekiawan (IntellecMals), Bisnis (Business) dan pemerintah (Government).
Ketiga elemen ini menjadi aktor utama penggerak lahirnya kreativitas, ide,
ilmu pengetahuan dan teknologi yang vital bagi tumbuhnya industri kreatif.
Selanjutnya, bangunan industri kreatif disempurnakan dengan
penambahan satu pilar, yakni peranan komunitas menjadi bentuk “quadro
helix”.

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI

-12-

Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015

a. Cendekiawan (Intellectuals): Dalam konteks industri kreatif,
cendekiawan mencakup budayawan, seniman, punakawan, begawan,
para pendidik di lembaga—lembaga pendidikan, para pelopor di
paguyuban, padepokan, sanggar budaya dan seni, individu atau
kelompok studi dan peneliti, penulis, dan tokoh-tokoh lainnya di
bidang seni, budaya (nilai, ?lsafat) dan ilmu pengetahuan yang terkait
dengan pengembangan industri kreatif.
b. Bisnis (Business): Suatu entitas organisasi legal yang menciptakan
dan menyediakan barang maupun jasa kepada konsumen. Di dalam
organisasinya, bisnis memiliki pengelompokan pekerjaan seperti
pemasaran, penjualan, produksi, teknologi informasi, riset dan
pengembangan. Pada saat~saat tertentu, bisnis juga membutuhkan
modal tambahan, yang didapat dari pinjaman bank atau pinjaman
informal atau investor baru. Bisnis pun harus dilengkapi dengan
proteksi guna menghalangi kompetitor untuk menyaingi bisnis.
Proteksi tersebut bisa dalam bentuk HKI, yang terdiri dari paten,
hakcipta, merek dagang dan desain.
c. Pernerintah (Government): sebuah organisasi yang memiliki otoritas
untuk mengelola suatu negara, sebagai sebuah kesatuan politik, atau
aparat/ alat negara yang memiliki badan yang mampu memfungsikan
dan menggunakan otoritas/kekuasaan. Pemerintah memiliki
kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-—
undang di wilayah tertentu. Pemerintah yang dimaksud dalam studi
rencana pengembangan ekonomi kreatif ini adalah pemerintah pusat
dan pemerintah daerah yang terkait dengan pengembangan ekonomi
kreatif, bajk keterkaitan dalam substansi, maupun keterkaitan
administrasi.
Mengenai fungsi dan tugas SDM sebagai dalang pembangunan ekonomi
kreatif, Richard Florida, dalam bukunya ”The Rise of Creative Class”,
menjelaskan individu-individu kreatif memiliki strata yang disebut sebagai
strata kreatif (creative class). Individu pada strata kreatif ini terlibat dalam
pektaan yang memiliki fungsi untuk menciptakan bentuk baru yang
memiliki arti. Strata kreatif terdiri dari dua komponen utama, yaitu Inti
Super Kreatif/ Super Creative Core (ilmuwan dan insinyur, profesor pada

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
_13_ Nomor : 72/M—IND/PER/9/2015
universitas, pujangga dan pengarang cerita, seniman & seniwati,
entertainers, aktor, desainer dan arsitek, pengarang cerita non?ksi, editor,
tokoh budaya, peneliti, analis, pembuat film, dan pekerja kreatif lainnya
yang secara intensif terlibat dalam proses kreatif) dan Pekerja Kreatif
Profesional/ Creative Profesional (pada umumnya bekta pada industri yang
memiliki karakterisitik: knowledge-intensive seperti industri berbasis
teknologi tinggi (high tech), berbasis jasa layanan keuangan, berbasis
Hukum, praktisi kesehatan dan teknikal, dan manajemen bisnis).
Saat ini, Indonesia memiliki jumlah individu dengan strata kreatif yang
jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan individu yang berada pada
strata pekerja. J umlah wirausaha yang ada di Indonesia sekitar 1,6 persen
dari total penduduk Indonesia atau sekitar 3,4 juta. Besaran angka tersebut
masihlebih sedikit dibanding dengan pelaku usaha lain di sektor
perdagangan dan industri dengan pemanfaatan kekayaan sumber daya
alam. Jika Indonesia ingin mengembangkan ekonomi kreatif maka j umlah
komposisi strata kreatif yang ada harus mendominasi jumlah strata pekta.
Pemerintah memiliki kendali dalam mengubah komposisi tersebut dengan
mengembangkan dan mendukung sistem pendidikan yang lebih serius, baik
melalui jalur formal maupun non formal. Pelaku industri kreatif pada saat
ini masih terkumpul di kota—kota tertentu, khususnya di Pulau Jawa,
seperti; Jakarta, Bandung, J ogjakarta dan Bali, walaupun mulai menggeliat
dikota lain seperti Surabaya, Cirebon, Semarang dan Malang.
BCIC merupakan salah satu program pemerintah Indonesia dalam upaya
mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif. BCIC terkait langsung dalam
pengetahuan intensif dan indutri kreatif, sehingga membutuhkan SDM yang
aktif mengakomodir kreativitasnya dalam usaha ekonomi kreatif. Model
bisnis BCIC dilandasi oleh SDM kreatif, terampil, professional dan
berpengalaman.
. Sumber Anggaran/ Pembiayaan
Selain, SDM yang berpengalaman, BCIC memerlukan sumber
pendanaan dan jaminan keuangan yang memadai guna menjalankan roda
ekonomi kreatif di Indonesia. Selayaknya tugas pemerintah memberikan
pendanaan maka sumber utama pembiayaan BCIC didapat dari APBN.
Namun, di sisi lain BCIC diwajibkan mampu menciptakan keuntungan

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian R1
_14_ Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015

finansial tersendiri untuk menuju kemandirian, salah satunya dengan
membuka kerjasama dengan intrument keuangan lain. Struktur pendanaan
menjelaskan keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk mengoperasikan
model bisnis.
Sumber dana yang ada akan digunakan untuk menciptakan dan
memberikan Value, menjaga Costumer Relationship dan Revenue. Biaya
untuk kegiatan tersebut dapat dihitung lebih mudah jika BCIC memperjelas
Key Resources, Key Activities dan Key Partnership. Dalam setiap
pelaksanaan model bisnis apapun, biaya menjadi hal yang harus
diminimalkan. Ada dua model biaya dalam dunia bisnis, yaitu biaya struktur
yang terdiri dari cost-driven dan value-driven.
1. Cost Driven: model bisnis ini terfokus pada meminimalkan biaya sebisa
mungkin. Pendekatan ini bertujuan menciptakan dan memelihara
struktur biaya yang ramping dengan menggunakan Value Pmposition
berbiaya rendah, otomatisasi maksimum, dan outsourcing perusahaan
yang luas. Perusahaan penerbangan seperti Southwest, easyJet, dan
Ryanair melambangkan model bisnis cost~driven.
2. Value Driven: Beberapa perusahaan tidak risau dengan implikasi model
bisnis yang dijalankan, dan memilih fokus pada Value Creation. Value
Propotion bernilai Premium dan pelayanan pribadi terhadap
konsumennya tingkat tinggi, mencirikan model bisnis yang Value Driven.
Hotel Mewah, dengan fasilitas mewah dan eksklusif jasa, termasuk
dalam kategori ini. Cost Structure dapat memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a) Fix Cost Berapapun volume barang atau jasa yang dihasilkan biaya
tetap sama. Misalnya, gaji, sewa, dan fasilitas manufaktur fisik.
Beberapa bisnis, seperti perusahaan manufaktur, yang ditandai
dengan tingginya proporsi biaya tetap.
b) Variable Cost. Biaya yang bervariasi secara proporsional dengan
volume barang atau jasa yang dihasilkan. Beberapa bisnis, seperti
festival musik, ditandai dengan proporsi yang tinggi biaya variabel.
c) Economic of scale: Biaya keuntungan yang dinikmati oleh bisnis
saat outputnya berkembang. Perusahaan yang lebih besar, misalnya,
mendapat manfaat dari harga pembelian massal yang lebih murah.
Faktor ini dan faktor—faktor lain mampu menekan biaya rata—rata per
unit menurun turun apabila outputnya ditingkatkan.

Lampiran Peraturan Menteri Permdustrian R1
_15_ Nomor : 72/M— IND/PER/9/2015

d) Econonomic of Scoupe: Biaya keuntungan yang dinikmati bisnis
karena lingkup operasi yang lebih besar. Dalam sebuah perusahaan
besar, misalnya, kegiatan pemasaran atau Saluran Distribusi yang
sama mampu mendukung berbagai produk.
Sebelum BCIC menjadi Badan Layanan Umum (BLU) yang mandiri,
pendanaan dalam rangka pemeliharaan gedung dan biaya pengeluaran
lainnya masih bergantung pada APBN, pengelolaan PNBP, dan
pembentukan kelembagaan Koperasi BDI Denpasar. Beberapa tahun
mendatang, BCIC diharapkan menjadi lembaga mandiri yang mampu
menjalin kemitraan dengan lembaga lain dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya sehingga tidak bergantung pada APBN.

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
e15- Nomor : 72/M- IND/PER/g/ZOIS

BAB III
RENCANA AKSI

A. Rencana Aksi Tahun 2015-2019
. Persiapan Bronding(merek} __ F, Merek
If” . Komunikasi Pemasaran ; Merek , Markom Markom

BCll C

Mutu E . Membangun Portal BCIC ‘ Markom . , Virtual Pemasaran .-‘l Merek
Merck . Persiapan Virtual . Inkubasr elektromk f . lnkubasi Elektronik a Pameran MANDIRI DAN

Pemasaran ‘ Pameran ”35‘0″”

/

, Pameran

/

lnternasionI BERDAYA SAlNG

. Konferensi lndustri Kreatif –
2015 Internasronal . . eminar, 2019
l Se . W k h

IWorkshop, Training

l

. Persiapan Klinik desaln . Mutu Desain ‘Tralllrlllfl or 5 op IDesain 3* Purwarupa
Mutu . Persiapan pameran kreatif ° Peningkatan Kapasitas IKM . g ‘- ‘P’°d”°t ”“33“?!” “(M
_ , . , _ _°Desa1n & Purwarupa _ R & D

Desain . Busmes& Desrgn Week . Marketing komunrkas: IIRiset Desain _
Prodot; don l . Riset Pemetaan . Desain 8: Purwarupa I’M k

’ 5 . Exhibition .3 event fesyen I ere I’Merek

”EDS 2018 2018

Peloyonan i . . . . . 21- Product Unggulan IKM ll

[ . Persrapan Networkrng IDesaIn Kllnlk I.
. IGDS 2015 °IGDS 2016 :IGDS 2017 ,x ,

‘I M/ ISeminar, Pelatrhan
\

°Desain 8: Purwarupa
‘ _ oProduk Un ulan IKM

Rekrurtmen 50M l . _ II IRiset Desain, Prototype, . R & D gg
° Persiapan Pelatihan: kurikulum, ‘? IRrset Desaln,Protorype, I Pemilihan produk .
Mutu silabus,modulajar,SAP,TOT I ‘ Pelaksanaan Pelatihan, I UnggulaaM
Operaslonal -. ° Set Up Inkubator: Sistem & SDM, I Seminar dll ‘-.. °R&D Green Material

Prasarana Sarana IOperasional Animasi ll. Pengembangan Progra
. Persiapan Operasional
|| °R&D, Natural Material, I Keberlanjutan
Animasi & Multimedia l ‘PdUk Unggulan ”(M ‘I -..I
l . Persiapan Lab, Workshop l. °R&D Natural Flber/Composr’te ‘I “II-EH
I.
lsrgjzrior,

Peralatan, Hardware, la. . Penilaian 8: Penetapan Kelembagaan
wore . – Pengembangan Program 201
l Pemetaan Potensr “(M I . Pengembangan Organisasi, SDM,
ll . Pengajuan Kelembagaan ‘III Manajemen Tata Kelola
l °
Roadmap . Pelaksanaan Program ‘III:

Program

l

. Penyusunan Program , Penilaian Organisasi

Manajemen .

PersIapan Kelemoagaan .‘ SDM, M an aj em en Tata Kelola

Modal don . Persrapan Organisasr, SDM, “II
Institusr’ l. Manajemen Tata Kelola “I 2016 ..’ _

Xx”

I . DasarHukum zo1§’\_ __….—-——-“’”/. M

Gambar 3.1 Peta Panduan BCIC 2015—2019

.-.’. I’T . “I. 1|”‘.’ ._ ‘I’ r.
I. ‘-._-.’. ..- ._’- – ..’I .

Dpeskrisi kondisi

1. Peta Panduan Tahun 2015

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
_17_ Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015

I’-

_|-:I-.’.l-

Tahun 2015 merupakan awal program kegiatan
BCIC berjalan. Untuk itu, tema awareness
digunakan yang dimaksudkan sebagai bentuk
perkenalan kepada masyarakat umum agar
terjadi pengertian dan pemahaman awal yang baik
tentang BCIC, juga awareness dari internal
pengelola agar memahami gambaran besar BCIC.
No Line Program Poin Kegiatan
1 Program
Manaj emen
Modal
Institu si

dan

Pelaksanaan program tahun pertama
Penguatan kelembagaan
Pengembangan organisasi, SDM, manajemen tata
kelola
Dasar hukum

2 Mutu
Operasional

Rekruitmen SDM
Kurikulum,
pelatihan
Penyiapan Inkubator: Sistem dan SDM, Prasarana
clan sarana
Persiapan operasional
Animasi dan multimedia
Persiapan laboratorium, workshop
Interior, peralatan, hardware & software
Pemetaan potensi IKM
Benchmarking dalam dan luar negeri

silabus, modul ajar, SAP, TOT,

3 Mutu
Produk,
Pelayanan

Desain,
dan

Persiapan Klinik Desain
Persiapan event kreatif
Business& Design Week
Riset pemetaan
Pameran
Persiapan jejaring
IGDS 2O 1 5
Open Learning Center (Pusat Pembelajaran)
Design Center
4 Mutu Merek Persiapan branding
Marketing communication
Membangun portal BCIC
Persiapan virtual market place (Pemasaran Virtual)
ICCI (International Conference for Creative Industry
2015)
Tabel 3.1 Pelaksanaan Peta Panduan BCIC Tahun 2015

2. Peta Panduan Tahun 2016
L. – -I . . . _. _ -I-
. ‘E:” _. – uh ‘ . – .. ._ .

.r- _- .. . II I-‘ra

rI’ . ‘I’L’r”. . –
._ . _.. ._. . :|_. I.

?llfj?h, – –

Lampiran Peraturan Menteri Permdustrian R1
-18- Nomor : 72/M- IND/PER/9?2015

~ a. h -“”‘* u-IIL: ,.-. 1:9“,
* ‘I’:’-I:’ ‘…. .EJ . -_-f ;-:=-:Lé_:.1_. ;{??é_£g_—._ – .
Dekrlpssi kondisi Setelah melalui program pemahaman, pada
tahun kedua BCIC fokus pada capacity building
kepada pengelola agar mendapatkan penguatan
dalam kompetensi kerjanya sehingga
diharapkan meningkatkan kinerja organisasi.
Di sisi lain, capacity building ini juga
membangun kepercayaan publik atas kualitas
kinerja organisasi, performa pelayanan, dan
sebagainya.
No Line Program Poin Kegiatan
Program
Manajemen
Modal
In stitusi

dan

Pengajuan kelembagaan
Pelaksanaan program tahun kedua
Penilaian organisasi
SDM, manajemen tata kelola

Mutu
Operasional

Riset desain, prototype
Pelaksanaan pelatihan, workshOp
Operasional animasi
R&D natural material
Produk unggulan IKM
R&D natural ?ber/ composite
Benchmarking dalam clan luar negeri

Mutu
Produk,
Pelayanan

Desain,
dan

Design excellence
Peningkatan kapasitas IKM
Marketing
Pemasaran)
Desain dan purwarupa
Event fesyen
Klinik Desain
IGDS 2016
Open learning center (Pusat Pembelajaran)
Design center

communication (Komu nikasi

Mutu Merek Branding
Marketing
Pemasaran)
E—incubator
Pameran nasional

communication (Komunikasi

Tabel 3.2 Pelaksanaan Peta Panduan BCIC Tahun 2016

3. Peta Panduan Tahun 2017
:’r- :ILI:I:-IE:

-:.:-: fl…

‘ I
skripsikochsi

I”

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
_19_ Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015

Tema besar strengthening bertujuan untuk
memperkuat kompetensi, kualitas dan kinerja
serta membangun sinergitas pada organisasi
BCIC pada tahun ketiga, yang merupakan waktu
krusial menuju kelembagaan yang mandiri
(Badan Layanan Umum).
No Line Program Pain Kegiatan
Program
Manajemen Modal
dan Institusi

Penilaian dan penetapan kelembagaan
Pengembangan program
Pengembangan organisasi, SDM, manajemen
tata kelola
Mutu Operasional Riset desain, prototype
Pengumpulan produk unggulan IKM
R&D green material
Benchmarking dalam dan luar negeri
Mutu Desain,
Produk, dan
Pelayanan

Seminar, workshop, pelatihan
Desain dan purwarupa
Riset desain
Produk unggulan IKM
IGDS 2017
Open learning center (Pusat Pembelajaran)
Design center
Mutu Merek Branding
Marketing communication (Komunikasi
Pemasaran)
Virtual market place
E-incubator
Parneran internasional

Tabel 3.3 Pelaksanaan Peta Panduan BCIC Tahun 2017

4. Peta Panduan Tahun 2018

1

I

Program
Manajemen Modal
dan Institusi

Pr1egembangan progmra kebertnlanjua

H

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
-20- Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015

I . ._ –

.- ‘ n. .I- . –. –

. . . I
.’_ ‘I. .l
J…

2 Mutu Operasional Workshop, pelatihan
Desain dan purwarupa
Produk unggulan IKM
R 85 D
3 Mutu Desain,
Produk, dan
Pelayanan

Workshop, pelatihan
Desain dan purwarupa
Produk unggulan IKM
R & D
IGDS 2018
Open Learning Center (Pusat Pembelajaran
Design Center
4 Mutu Merek Branding
Marketing
Pemasaran)
Pameran internasional

communication (Komunikasi

Tabel 3.4 Pelaksanaan Peta Panduan BCIC Tahun 2018

5. Peta Panduan Tahun 2019

Manajemen Modal
dan Institusi

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
-21.. Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015

Pengmbangan program keberlanjutan

I ‘

2 Mutu Operasional Workshop, pelatihan
Desain dan purwarupa
Produk unggulan IKM
R 65 D
3 Mutu Desajn,
Produk, dan
Pelayanan

Workshop, pelatihan
Desain dan purwarupa
Produk unggulan IKM
R 65 D
IGDS 2019
Open Learning Center (Pusat Pembelajaran)
Design Center
4 Mutu Merek Branding
Marketing communication (Komunikasi
Pemasaran)
Pameran internasional

Tabel 3.5 Pelaksanaan Peta Panduan BCIC Tahun 2019

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian R1
-22- Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015

6. Kegiatan Quick Wins
a)

b)

Peningkatan Kapasitas SDM
(1) Aparat Disperindag Provinsi seIuruh Indonesia: Program
Pengembangan Industri Kreatif Nasional 2015—2020
(2) IKM: Program Pengembangan Desain dan Purwarupa untuk subsektor
fesyen dan kerajinan
Peningkatan Komunikasi, J ejaring dan Promosi
(1) Pemanfaatan gedung pameran: Pameran tematik secara berkala, di
antaranya Pameran Desain Produk, Fesyen dan Kriya Perguruan
Tinggi Nasional
(2) Promosi produk IKM hasil pelatihan/inkubator BCIC melalui pameran
bergilir di ruang galeri (perhiasan, fesyen, kerajinan, keramik hias)
(3) Workshop Pengembangan Desain Furniture Rotan: Indonesia—Jerman
(4) ICCI III 2015 (International Conference for Creative Industry):
Konferensi Internasional Industri Kreatif yang diikuti oleh 10 negara
Asia Pasifik dengan 200 peserta
(5) Kongres Nasional ADPII (Asosiasi Desainer Produk Industri Indonesia)
(6) Design Camp: “Future Craft 2015” HDMI (Himpunan Desainer Mebel
Indonesia)
(7) Pembangunan portal BCIC
Pengembangan Industri Software dan Konten
Pengembangan industri software dan konten berbasis digital.
Persiapan Inkubator Bisnis
Manajemen Tata Kelola, Rekruitmen tenant inwall, outwall, online
(pembuatan sistem hardware, software dan brainware).
Penelitian Pemetaan Industri Kreatif Nasional
Pemetaan kriya kayu, logam dan keramik, Pemetaan Industri fesyen
tradisional dan modern.
Kegiatan Kompetisi dan Penghargaan
IGDS 2015 (Indonesian Good Design Selection) & Kompetisi Desain
Pengemasan Produk tingkat Nasional -—- Internasional

B. Indikator dan Target Kinelja

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
-23.. Nomor : 72/M-IND/PER/9/2015

Re storan

1 Operasional APBN 10 M 10 M 10 M 10 M 10 M
Pengelolaan Pendapatan 14,7 M 15,94 18,18 20 M 21,8 M
BCIC (Rp) M M

Cost/ Revenue 100% 90% 80% 70% 70%
Komplain 10 7 5 3 1
Kunjungan 500 a 700 pax 900 pax 1.200 1.500
Tamu pax pax
Kunjungan 10.000 10.000 10.000 10.000 10.000
Web
2 Pelatihan Pendapatan 1.8 M 2 M 2,7 M 3, 15 M 3,6 M
(Rp)
Angkatan 20 25 30 35 40
Peserta 600 pax 750 pax 900 pax 1050 1200
pax pax
Sebaran 12 18 20 25 30
(provinsi)
3 Event Pendapatan 1.8 M 2. 1 M 2,8 M 3,4 M 4 M
(Rp)
J umlah 5 7 9 12 15
Sebaran 10 12 14 17 20
(provinsi) –
Pengunjung 5.000 7.000 9.000 12.000 15.000
pax a a pax a
4 Desain, Pegembangan 30 36 42 56 72
R 85 D dan Desain
HKI Kajian 2 3 4 5 6
Inovasi — HKI 5 10 15 20 25
Kebijakan 1 3 5 5 5
5 Kompetisi Kegiatan 2 3 4 5 6
dan Peserta 500 600 800 1000 1200
Pemgharga Sebaran 3 3 3 4 5
an (provinsi)
6 Rumah Kontrak 5 8 12 15 15
Produksi Penjualan 1.5 M 2 M 2.5 M 3 M 3.5 M
7 Ruang Pendapatan 0.12 M 0.12 M 0.16 M 0.2 M 0.2 M
Pamer clan (Rp)
Penjualan kunjungan 3.000 3.000 4.000 5.000 5.000
8 Hotel Okupansi 30% 35% 45% 55% 60%
Pendapatan 1 M 1,2 M 1.5 M 1.7 M 2 M
(Rp)
9 Kafe clan Sewa (Rp ) 0,48 M 0,50 M 0,52 M 0,56 M 0,56 M

r.__________.___.

Lampiran Peraturan Menteri Perindustrian RI
-24- Nomor : 72/M- IND/PER/9/2015

10 Inkubator Wirausaha 10 20 30 30 30
barn _
11 Marketing Online 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000
Komunikasi (kunjungan)
Of?ine 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000
(audience)
Sebaran 10 12 14 17 20
(provinsi)
Kunjungan 500 700 900 1200 1400
BCIC (orang)
Pelanggan 100 200 320 440 450
(org-
perusahaan)
Tabel 3.6 Indikator dan target kinerja BCIC tahun 2015-2019

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *