Gapki Desak Kemdag Tidak Berlakukan BK Ekspor CPO

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mendesak Kementerian Perdagangan (Kemdag) untuk tidak memberlakukan bea keluar (BK) untuk ekspor komoditas crude palm oil (CPO) bulan depan.

Bahkan , Gapki menilai ada kesalahan perhitungan yang dilakukan Kemdag. Mengingat hingga Juni, ekspor CPO masih dikenakan BK. Padahal, semestinya sejak Mei – Juni, ekspor CPO tidak dikenakan BK.

Dari sisi harga, sepanjang Mei 2016 CPO global bergerak pada kisaran US$ 685-US$ 730 per metrik ton, dengan rata-rata US$ 703,1 per metrik ton. Sementara harga rata-rata bulan Mei turun 2,9% dibandingkan April yaitu US$ 713,1 per metrik ton. Sedangkan harga CPO global hingga pekan ketiga Juni 2016 bergerak pada kisaran US$ 662,5 – US$ 720 per metrik ton.

Harga CPO global terkoreksi sepanjang bulan Juni karena permintaan global melemah padahal menjelang bulan Ramadan biasanya permintaan meningkat.

Pada bulan Juni ini, para pengusaha minyak sawit kembali dikenakan pungutan BK karena harga rata-rata CPO untuk periode BK Juni ditetapkan sebesar US$ 751,25. Artinya harga tersebut di atas US$ 750 per metrik ton, batas minimum pengenaan BK, sehingga BL diaplikasikan dan berdasarkan PMK No. 136/2015 jatuh pada kolom II atau BK dikenakan sebesar US$ 3 per metrik ton ekspor.

Berdasarkan perhitungan GAPKI, pada bulan Mei-Juni semestinya tidak dikenakan BK, karena dengan harga rata-rata rujukan setelah dikurangi biaya transportasi, harga masih berada di bawah US$ 750. Oleh karena itu Gapki mengimbau agar Kemdag meninjau kembali penetapan BK ekspor tersebut serta agar dapat pula mengajak asosiasi sawit untuk mendiskusikan hal tersebut lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *