Krisis Biji Kakao Melanda Industri

Industri pengolahan kakao dilanda krisis biji kakao. Bahan baku yang kian sulit didapatkan karena produksi biji kakao dalam negeri yang terus menurun menjadikan industri hilir kakao tidak lagi menarik bagi para investor.

Sebagai gambaran, saat ini produksi kakao Indonesia  hanya berkisar 350.000 ton per tahun. Sedangkan kapasitas terpasang industri pengolahan yang ada mencapai 800.000 ton. Untuk dapat menutup kekurangan bahan baku, industri mengimpor biji kakao mentah. Tahun lalu, impor tercatat hampir mencapai 100.000 ton dan tahun ini diprediksi meningkat.

Contohnya, sentra kakao di Sumatera Barat hanya mampu memproduksi 50.000 ton pr tahun. Industri pengolahan kakao baru efisien ketika kapasitasnya mencapai 50.000 ton. Adapun kebutuhan investasi untuk kapasitas sebesar itu mencapai sekitar US$ 50 juta.

Sentra kakao Sulawesi Tengah sebenarnya mampu memproduksi 150.000 ton per tahun. Akan tetapi, belum ada investor yang meliriknya.

Industri kecil tidak direkomendasikan mengolah biji kakao karena dinilai tidak efisien. Pasalnya untuk mengolah biji kakao menjadi bubuk dibutuhkan mesin yang mahal, berbeda dengan pengolahan biji kopi yang lebih sederhana.

One thought on “Krisis Biji Kakao Melanda Industri

  • 17 Juli 2016 at 06:41
    Permalink

    Wonderful! Don't forget one more lesson taken from the nazis, the power of the media to demonize and dehumanize the Jews/Israel, and, boy, the Israeli media learned that so well. They manipulate the news to destroy the left's competition and the &qlsq;settuero&tuot; of course.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *