Ekspor CPO Tidak Terpengaruh Pembubaran IPOP

Ketua Komite Tetap Perkebunan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rudyan Kopot mengatakan, penjualan produk crude palm oil (CPO) Indonesia di pasar luar negeri tidak terganggu dengan bubarnya manajemen IPOP.

Selain karena CPO sangat dibutuhkan, harganya lebih rendah dan lebih baik dibandingkan dengan minyak nabati lain. Oleh karena itu, produk CPO Indonesia tetap menarik di pasar eskpor.

Di sisi lain, Indonesia juga sudah menerapkan prinsip Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dalam rangka menjaga lingkungan. Dengan menerapkan RSPO, maka produk CPO Indonesia sudah memenuhi standar ramah lingkungan. RSPO dan ISPO lebih dari cukup digunakan melawan isu lingkungan yang dihembuskan selama ini.

Sawit merupakan tanaman yang lebih ramah lingkungan dibandingkan produk minyak nabati lain seperti jagung, kedelai dan bunga matahari. Pohon sawit bisa menjadi hutan yang menyumbangkan oksigen. Pembukaan lahan sawit juga tidak masih layaknya minyak nabati yang lain.

Dalam 20 tahun terakhir, pembukaan lahan sawit di Indonesia hanya mengalami peningkatan 6 juta hektare. Sedangkan untuk pembukaan lahan perkebunan minyak nabati lain mencapai 30 juta hektare.

Jika kebutuhan minyak nabati dunia meningkat 6 juta ton per tahun sebenarnya dapat dipenuhi hanya dengan membuka 1 juta hektare lagan perkebunan sawit. Sementara minyak nabati lain membutuhkan 10 juta hektare hanya untuk menghasilkan 6 juta ton minyak nabati. Sehingga minyak sawit tetap produk yang lebih ramah lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *