Bisnis CPO Terganjal Pungutan Ekspor

Kekhawatiran pengusaha kelapa sawit terhadap pemungutan pajak ekspor crude palm oil (CPO Fund) atau minyak kelapa sawit tahun lalu sepertinya mulai terbukti. Sejumlah perusahaan kelapa sawit non eksportir terpaksa merelakan harga jual produk CPO mereka terpangkas akibat perusahaan eksportir membebankan pungutan CPO Fund kepada mereka. Alhasil kinerja sebagian perusahaan produsen CPO tertekan.

Mengutip Kontan, harga jual PT Provident Agro Tbk sebagai salah satu perusahaan produsen CPO telah menurun sejak tahun 2015. Tercatat, harga rata-rata CPO perusahaan tersebut menurun hingga 17,6% dibandingkan dengan tahun 2014.

Namun, tahun lalu tampaknya Provident Agro berhasil menahan penurunan pendapatan hingga hanya 1,04% menjadi Rp 1,05 triliun dibandingkan pendapatan tahun 2014 sebesar Rp 1,06 triliun. Pendapatan Provident Agro pada kuartal I-2016 naik menjadi Rp 255,27 miliar dari Rp 239,33 miliar (yoy). Kenaikan tersebut terjadi karena produksi CPO yang mengalami peningkatan 39,6% menjadi 32.404 ton.

Nasib serupa juga dialami oleh PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk. Dimana CPO Fund telah menggerus harga CPO domestik, termasuk harga jual Tandan Buah Segar (TBS) petani. Bakrie Sumatera menjual CPO ke eksportir lain seperti PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Multimas Nabati Asahan, dan PT Musim Mas. Eksportir tersebut membebankan bea keluar dan CPO Fund keluar perusahaan sehingga berkontribusi terhadap anjloknya nilai penjualan sepanjang semester I-2016 sebesar 28% dibandingkan tahun 2015 lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *