Ekspor Ikan Terancam Monitoring Impor

Skema SIMP (Seafood Import Monitoring Program) diusung Atmospheric Administration (NOAA) dan US Commerce Trusted Trader Program dinilai hanya akan mematikan pendapatan  nelayan dan pengusaha perikanan berskala kecil. Hal tersebut dikarenakan mereka terhalang banyaknya persyaratan yang ditentukan dalam skema SIMP. Salah satunya eksportir diharuskan menyediakan informasi rantai pasok memenuhi permintaan Pemerintah AS yang ingin mengetahui proses tangkap hingga sampai ke negara tujuan. Munculnya syarat tersebut dinilai karena kecurigaan terhadap nelayan Indonesia yang tidak mengikuti SOP penangkapan ikan.

Padahal jika skema tersebut diberlakukan, nilai ekspor AS terancam anjlok. Namun penurunan ekspor tersebut dinilai tidak begitu tajam, lantaran tren ekspor sekarang ini memang sudah turun. Saat ini eksportir ikan nasional hanya didominasi perusahaan besar yang memang telah mendapatkan sertifikasi dan approval number dengan jumlah sekitar 250 perusahaan eksportir.

Skema ini intinya mengatur tiga hal pokok yakni:

  • Klasifikasi at-risk species yakni 17 spesies yang pernah tercatat sebagai hasil Illegal Unreported Unregulated Fishing (IUUF).
  • Kewajiban sertifikasi dan traceability tangkap bagi at-risk species produk perikanan budidaya maupun hasil tangkap.
  • Penyediaan informasi rantai pasok, mulai dari lokasi tangkap/budidaya, kapal, alat tangkap, proses pengangkutan, pengolahan, hingga proses ekspor.

Selama ini Indonesia banyak mengekspor tuna, udang, dan jenis ikan lainnya ke AS. Berdasarkan data BPS, ekspor produk perikanan Indonesia ke dunia tahun 2015 tercatat sebesar US$ 3,60 miliar. Ekspor produk perikanan Indonesia ke AS mencapai total 40% dari nilai tersebut atau senilai US$ 1,44 miliar. Nilai tersebut turun 21% atau sebesar 0,39 miliar dari tahun 2014 yang mencapai USD 1,83 miliar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *